Rabu, 29 Juni 2011

Chendol/Dawet



Cendol / Dawet


Melihat bentuknya,banyak yang membayangkan bikin cendol sangat ribet. Padahal kalau dah dicoba,lumayan  mudah. Hanya butuh waktu beberapa menit saja. Apa lagi dibulan puasa,cendol sangat menggoda. Cendol dapat dinikmati disaat hangat,ataupun dikala dingin. Menghadirkannya dari dapur sendiri,akan lebih terjamin kebersihan nya. Yuk..mari mencoba..
                                                                                 


Resep : 


Bahan: 100 gr tepung sagu tani
           150 gr tepung beras
           1200 ml Air daun pandan/daun suji,aku pakai pasta pandan
           0,5 sdt kapur sirih (dilarutkan dengan 1 sdm air)
           sejumput garam
           
Cara : Larutkan semua bahan dalam kondisi suhu ruang,aduk hingga rata
          Masak dengan api sedang,hingga kental dan mengkilat
          Angkat,lalu saring dengan cetakan berlubang,dan ditampung dengan air dingin yang sudah dimasak       terlebih dahulu
           
Cendol/Dawet yang sudah jadi bisa kita hidangkan dengan santan yang sudah dimasak,Larutan gula merah/gula putih,nangka matang,duren,emping,tapai ketan/tapai singkong...sesuai selera.


Selamat mencoba..:)


Note : Ini adalah model Cetakan Chendol yang biasa digunakan. pemakaian nya sangat simple dan cukup mudah,baik bagi yang mahir maupun pemula.Caranya cukup dengan memasukkan adonan yang sudah di masak kedalam y cetakan yang berlobang,lalu tekan dengan Cetakan yang satu lagi dan dibawahnya sudah disiapkan air untuk menampung yang sudah ditiriskan.








=========================================================================





Kakap Merah Bakar






Kakap Merah bakar


Kebetulan ada teman yang ngasih kemangi dari kebunnya,jadi ingat ikan bakar. Jadilah beli kakap merah di Fish Market. Kebetulan kalau disini Ikan laut segar segar,malah kadang kita lansung beli dari Nelayan yang baru turun.
Cukup di kasih bumbu bawang merah bawang putih,kunyit,jahe,cabe merah,di Blender. Karena lagi tidak bersahabat dengan santan dan kemiri,maka untuk saat ini ditiadakan dulu.Ikan di kasih garam dan jeruk lemon,lalu siram dengan bumbu...Di Bakar Deh..Sajikan dengan sambel kecap atau sambel tomat dan lalapan. Pakai lalap kemangi makin mantaff.

Minuman Segar dan sehat


Tiap pagi kami suka minum ini sebelum minum/makan yang lain. Konon ini sangat bagus utk detox /mengeluarkan racun dalam tubuh. Alhamdulillah badan terasa lebih Vit,meskipun aroma beetrootnya kurang sedap di hidung..tapi khasiatnya membuat kita harus tutup hidung beberapa detik saat meminumnya. Di coba yuu...

Komposisinya...1 bh Apel merah/hijau + satu buah Wortel/Carrot + 1 buah Beetroot di blender dan disaring airnya. Akan menghasilkan 2 gelas Jus jadi bisa diminum masing masing satu gelas dengan suami. Kadang si anak gadisku juga ikut meminumnya.

Usia Sekolah ( Masa Transisi )

Pada Usia ini,diriku mengalami perombakan besar besaran dalam hidup. Ku awali langkah baru dari dunia yang sama sekali tak kusadari kalau aku sedang bersekolah,warna warni kehidupan di asrama hingga akhirnya Toga bersarang di kepalaku.

Masa masa lugu,meniru,ragu,dan berbagai emosi dan gejolak jiwa  kulewati  dalam fase ini. Indahnya masa kanak kanak,berbunganya masa remaja hingga belajar mengatur wibawa merupakan seni hidup terindah saat itu.

Di Sekolah Dasar prestasiku cukup membanggakan,namun jahilnya masa kanak kanak juga bagian dari memory yang tak mungkin kulupakan. Memanjat,bermain hujan hujanan,hilir mudik sepanjang kebun,sawah,sungai merupakan hal yang biasa bagiku. Menceburkan diri  di kolam belakang sekolah disaat istirahat,ataupun pulang sekolah menjadi kenangan terindahku saat itu,meskipun sampai saat ini aku tetap berenang dengan gaya botol...kalau dah penuh ya tenggelam..hehehe

Sisanya masa remaja,sebagian besar kulewati bersama teman seperantauan baik di asrama,di kos kosan apalagi di sekolah/kuliah. Pada tahap inilah aku belajar banyak tentang toleransi,tenggang rasa,tepa selera,berbagi,mandiri,tegas,mengalah,dan sebagainya. Disiplin dan tegasnya kehidupan asrama tidak lagi asing dalam kehidupanku. Tapi kenyataan disana pula yang banyak memberi andil dalam mendidik aku untuk menerima kenyataan hidup ini apa adanya. Disana juga aku belajar berbesar hati menerima setiap kondisi yang kujalani. Tanpa kusadari ternyata aku mulai tumbuh menjadi seorang gadis yang mau tidak mau harus siap menghadapi dunia luar . Disiplin nya membuat aku terbiasa hidup dengan penuh aturan yang jelas.Walau setelah kulia (keluar dari asrama),aku tetap betah dengan dunia rumahan dan tidak banyak hasrat untuk keluar rumah tanpa keperluan yang berarti.

Puncaknya tahap ini adalah saat aku menamatkan kuliah. Pada masa ini aku telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cukup dewasa. Sama hal nya seperti para sarjana yang lain,segala rencana tumbuh subur dalam benakku. Alhamdulillah karena aku tamat tepat waktu dengan nilai yg sangat memuaskan,Alhamdulillah aku diterima lansung di almamater ku walau waktu itu baru menjadi Asisten Dosen kader,karena Alhamdulillah waktu itu,aku dan beberapa orang temanku Lulusan tercepat (tepat waktu) semenjak  fakultas itu berdiri. Bahagia pastinya menyelimuti hatiku dan 6 orang temanku yang lain.

Alhamdulillah teman temanku yang lain sekarang sudah menamatkan sampai Doctoral,dan bagian yang mesti kupetik hikmah nya,aku sendiri hanya bisa menikmati masa itu kurang dari 1 tahun. Allah Swt menentukan jalan yang berbeda untukku dan tentunya harus tetap kusyukuri dan kunikmati.
Kecamuk jiwa sudah pasti kurasakan,saat orang tua menganjurkan untuk segera menikah,sementara hati dan asa masih melayang ingin terus sekolah dan berkarir lebih tinggi lagi.Disatu sisi,Nasehat orang tua merupakan petunjuk sakral yang selalu ku pegang teguh,disisi lain keinginan untuk sekolah yang lebih tinggi tak bisa jua kupungkiri. Keduanya makin berkecamuk,ketika  Prinsip hidupku yang tidak bisa ditawar,bahwa setelah menikah aku harus tinggal disisi suami membuat aku sedikit panik.
Tapi dalam sujud dan simpuhku pada Allah Swt,memohon jalan terbaik,kuperoleh keputusan untuk ikut anjuran orang tuaku. Karena kuyakini,Allah Swt jauh lebih mengerti tentang diriku sendiri ketimbang apa yang kutahu tentang aku.

Alhamdulillah kujalani keputusan yang kusandarkan pada ilahi ini dengan ikhlas,ridho dan tawakkal. Disini pula berakhirnya episode Usia sekolah yang kumiliki.

Mencari Syurga dari kepulan asap dapur sendiri..InsyaAllah..

Jujur,sebelum menikah,diriku bukanlah wanita yang hobby dalam bidang masak memasak bahkan kalau sudah berfikir kearah dapur,diriku kurang berminat. Tapi,setelah menikah,apalagi punya anak,keinginan untuk memanjakan lidah sang kekasih dan sibuah hati dari dapur sendiri,timbul dengan sendirinya,walaupun suami tak pernah mengharuskan aku untuk itu. Cinta dan kasih sayang yang tulus,menggiringku menuju dapur,pasar ikan ataupun pasar sayur yang terkenal becek. Sungguh suatu kebahagiaan melihat anak dan suami menikmati hasil racikan jari sendiri dengan nikmat dan lahap...Hmmm...Bahagia nya jika menyaksikan yang terkasih sampai berkeringat menikmati olahan tanganku sendiri....Pujian dan kepuasan yang mereka tunjukkan sudah melebihi sebuah award yang membuat diriku lebih bersemangat lagi.

Syurga pertama dalam keluargaku berusaha kuciptakan dari kepulan asap dapur setiap hari. Pasang surut perekonomian tidak melunturkan semangatku untuk tetap menghadirkan masakan sehat dan bergizi walau dengan menu sederhana. Yang terpenting kami semua bisa menikmati makanan sehat penuh gizi walau tidak mahal dan mewah. Alhamdulillah sang suami dan sibuah hati juga tidak terlalu rewel dengan menu menu yang kusajikan. Kami menikmati makanan apa saja yang ku masak,yang penting halalan Toyyibah,sehat dan bergizi.

Banyak hal Positif yang bisa kita tuai dari memasak sendiri untuk keluarga,diantaranya :

1. InsyaAllah akan menuai pahala jika kita kerjakan dengan ikhlas karena Allah Swt.

2. Bisa kita pastikan masakan yang kita masak sendiri adalah masakan halal dan dari bahan yang halal dan cara cara pembuatan yang halal.

3. Menghemat keuangan,tapi tetap bisa menikmati makanan yang lezat dan bergizi.

4. Menciptakan semangat untuk terus belajar tentang menu menu baru sehingga keluarga tidak jenuh untuk makan dirumah.

5. Bisa kita yakini tentang kebersihan dan barunya masakan.

6. Disesuaikan dengan selera keluarga sehingga sedikit sekali kemungkinan untuk membuang makanan

7. Mempererat rasa kasih sayang dan membangun kerja sama yang baik diantara anggota keluarga.

8. Membangun keinginan untuk belajar memasak makanan sendiri bagi anak anak,apalagi yang punya anak perempuan. Sebagai wanita keturunan Minang asli,sudah tidak asing lagi bagiku untuk menerapkan pola memasak makanan sendiri untuk keluarga. Kebiasaan ini sudah diterapkan sejak lama didalam tradisi wanita Minang kabau.

Tidak bisa dipungkiri,bahwa para presiden,para pembesar,para ilmuwan,dan banyak lagi orang orang terkenal,hadir dan besar dari kepulan asap dapur dan memakan hasil racikan tangan ibunya sendiri.

Meskipun lebih sering memasak sendiri,namun sesekali kami juga menikmati kuliner diluar rumah sebagai variasi selera dan refreshing.

Selasa, 28 Juni 2011

Usia Emasku (My Golden Age)

Saya anak sulung dari 5 Bersaudara yang terlahir dari keluarga sederhana di kota Metropolitan Jakarta.Namun Konon,Sejak umur 18 bln,saya dibesarkan didesa bersama seorang nenek dan 2 orang nenek uyut. Hampir sebagian besar masa kecil,saya habiskan bersama beliau bertiga di satu desa terpencil di Minang kabau,penuh dengan suasana pedesaan yang sampai kapanpun akan saya rindukan. Udaranya yang segar,lingkungan yang sangat sangat alami,asri,damai. Disana saya akrab dengan aroma lumpur,sawah,kolam,sungai,air mengalir,wanginya aroma bunga padi,ikan yang segar,rentangan petak sawah,hijaunya perbukitan,sejuknya air mengalir,kicauan burung pagi hari,gelepar ikan dikolam,duduk dirumput hijau,berlompatan ditumpukan jerami ketika selesai panen,indahnya suasana hati ketika buah buahan mulai menampakkan bunga dan putiknya,kokok ayam pagi hari,senangnya ketika mengutip telor bebek(itik) pagi hari..Ouuuuuhhhh....terlalu banyak yang membuat saya bahagia.

Metode pendidikan yang sangat simple,alami penuh tata krama,kental dengan adat istiadat daerah,tapi sangat mudah saya resapi dan sangat saya junjung tinggi. Dari beliau bertiga saya belajar sopan santun,mengaji.sholat,puasa bahkan menggunakan obat obatan  yang lansung dipetik dari alam sekitar kita. Dari beliau saya belajar Etika,moral,adab,dan prinsip. Tanpa disadari,ilmu alam saya pada usia sebelum sekolah,telah menyamai ilmu pengetahuan alam sesuai kurikulum lulusan Sekolah Dasar,walaupun tanpa buku,tanpa pensil ataupun tanpa papan Tulis. Hal ini baru disadari,setelah anak saya kelas 5 SD,tapi sungguh mengejutkan,putri kecilku seumur itu masih balajar yg mana daun singkong,daun pepaya,ataupun yg lainnya..MasyaAllah.....

Dari sekian banyak Ilmu itu,yg paling mendasar adalah pembentukan karakter yg tumbuh alami dalam diri saya,tentang sopan santun,adab,etika,tata krama,kebebasan berfikir,bertindak,memutuskan masalah,serta prinsip prinsip hidup lainnya yang dibentuk oleh beliau bertiga dan jarang  saya jumpai dalam pendidikan formal walau sampai kebangku kuliah sekalipun. Dari beliau saya belajar toleransi,menghargai orang lain dengan tidak harus merubah prinsip prinsip hidup sendiri,Belajar menyampaikan suara hati,dengan tidak melukai siapapun. banyak bahasa yang saya fahami,mulai dari bahasa isyarat,bahasa mata,bahasa hati,bahasa jari dan banyak lagi bahasa yg hanya bisa difahami oleh orang orang yg terbiasa menggunakannya dan dididik dengan metode itu. dari raut wajah,saya memahami banyak kata kata.Tidak ketinggalan juga petuah,petatah,petitih,penyampaian maksud dengan kata yg paling halus,sesuai dengan adat istiadat secara Minang Kabau. Tau kato malereng,kato mandaki dan kato manurun. Tau Dahan nan kamaimpok,tau rantiang nan kamancucuak,mangarati ereng jo gendeng. Watak dan karakter itulah yang terbentuk dan saya miliki hingga saat ini. Karena sudah mendarah daging disaat Usia Emas saya.

Dari sinilah kehidupan saya bermula,dengan tidak mengecilkan arti kedua orang tua saya,yang pastinya beliau berdua adalah cikal bakal kehidupan saya di dunia. Tapi tidak banyak yang bisa saya catat pada usia lahir,karena memang saya tak mampu mengingatnya. Namun demikian saya sangat bersyukur terlahir dari beliau berdua,berkat orang tua,saya terlahir sehat,dan sempurna sebagai anak manusia. Berkat beliau juga saya bisa besar dan menjadi seperti ini. Walau dibesarkan dalam keluarga sederhana,saya sangat bangga pada kedua orang tua saya. Kesederhanan beliau jua,yang menuntun saya utk siap menjalani hidup walau apapun bentuknya...Alhamdulillah Hirobbil 'Alamiin.

Kisah selanjutnya : Rumahku,Syurgaku,taman jiwaku
                             kisah kasihku-memetik-menggapai-baitullah.
                             usia-sekolah-masa-transisi.